Apabila Allah menghendaki kebaikan dan bimbingan untuk hamba-Nya maka Allah akan mempersaksikan hamba tersebut terhadap segala mkmat -Nya. Allah membuat hamba tersebut sadar, ridha, dan bersyukur kepada-Nya. Tidak justru bosan dan merendahkan nikmat tersebut.
Ketika terbersit dalam jiwanya perasaan bosan terhadap nikmat Allah, ia segera bertaubat dan memilih pilihan Allah, Dzat Yang Mahamengetahui segala mashlahat hamba. la sadar bahwa pilihan Allah untuknya adalah yang terbaik. Apapun itu. Ia yakin pula bahwa dirinya tidak mungkin mengusahakan mashlahat untuk dirinya sendiri. Namun, ia serahkan pilihan terbaik kepada Allah. Kemudian menerima dan qanaah terhadap pemberian-Nya.
Sungguh, tidak ada yang lebih bermadharat bagi seorang hamba dari pada kebosanannya terhadap nikmat-nikmat Allah. Karena, hal ini akan membawanya untuk memandang berbagai karunia dengan sebelah mata. Tidak akan mensyukuri, bahkan tidak senang terhadap anugerah tersebut. Pada tingkat terparah, akan membenci dan menganggapnya sebagai musibah.
Padahal, bisa jadi nikmat tersebut adalah pemberian yang terbesar. Sungguh, kebanyakan manusia adalah musuh bagi nikmat-nikmat Allah kepadanya. Mereka tidak merasa pintu karunia yang selalu terbuka untuk mereka. Mereka justru berupaya menolak dan menentangnya.
Ketika Allah. benar-benar mencabut nikmat-nikmat-Nya, barulah penyesalan dan keluh kesah yang ada. Namun, semuanya telah terlambat. Semuanya telah lenyap. Tinggal satu hal yang bisa ia lakukan, yaitu kembali kepada Allah Bertaubat kepada-Nya, menegakkan agama-Nya. Seandainya ini tidak ditempuh, maka kesengsaraan dan kebinasaan akan menjumpainya. Allahul Musta’an.
[Farhan].
Referensi: AI Fawaid karya Ibnul Qayyim rahimahullah
Majalah Tashfiyah Edisi 30
Ketika terbersit dalam jiwanya perasaan bosan terhadap nikmat Allah, ia segera bertaubat dan memilih pilihan Allah, Dzat Yang Mahamengetahui segala mashlahat hamba. la sadar bahwa pilihan Allah untuknya adalah yang terbaik. Apapun itu. Ia yakin pula bahwa dirinya tidak mungkin mengusahakan mashlahat untuk dirinya sendiri. Namun, ia serahkan pilihan terbaik kepada Allah. Kemudian menerima dan qanaah terhadap pemberian-Nya.
Sungguh, tidak ada yang lebih bermadharat bagi seorang hamba dari pada kebosanannya terhadap nikmat-nikmat Allah. Karena, hal ini akan membawanya untuk memandang berbagai karunia dengan sebelah mata. Tidak akan mensyukuri, bahkan tidak senang terhadap anugerah tersebut. Pada tingkat terparah, akan membenci dan menganggapnya sebagai musibah.
Padahal, bisa jadi nikmat tersebut adalah pemberian yang terbesar. Sungguh, kebanyakan manusia adalah musuh bagi nikmat-nikmat Allah kepadanya. Mereka tidak merasa pintu karunia yang selalu terbuka untuk mereka. Mereka justru berupaya menolak dan menentangnya.
Ketika Allah. benar-benar mencabut nikmat-nikmat-Nya, barulah penyesalan dan keluh kesah yang ada. Namun, semuanya telah terlambat. Semuanya telah lenyap. Tinggal satu hal yang bisa ia lakukan, yaitu kembali kepada Allah Bertaubat kepada-Nya, menegakkan agama-Nya. Seandainya ini tidak ditempuh, maka kesengsaraan dan kebinasaan akan menjumpainya. Allahul Musta’an.
[Farhan].
Referensi: AI Fawaid karya Ibnul Qayyim rahimahullah
Majalah Tashfiyah Edisi 30